
Capres Independen, Kenapa Perlu?
INILAH.COM, Jakarta - Dengan perolehan 60% suara, pemerintahan SBY tak menghasilkan kepemimpinan yang efektif dan kuat. Itulah ...
Padang, (6 Desember 2008), Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi menyatakan,hingga bulan Oktober, nilai ekspor Sumatera Barat (Sumbar) masih tumbuh mengesankan. Namun, sejak bulan November 2008 ini mulai muncul tanda-tanda pelambatan ekspor sebagai dampak dari krisis finansial global yang membuat harga sejumlah komoditas perkebunan anjlok.
Gamawan Fauzi mengemukakan hal itu dalam jamuan makan malam bersama mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, di kediaman Gubernur, Jumat malam.
Menurut Gamawan Fauzi, nilai ekspor Sumbar pada periode Januari-Oktober 2008 mencapai US$2,4 miliar. Angka itu menunjukkan pertumbuhan yang sangat mengesankan dibandingkan dengan nilai ekspor periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 1,4 miliar.
Namun, seiring dengen meledaknya krisis finansial global pada kuartal pertama 2008, yang membuat perekonomian Amertika Serikat dan negara-negara industri maju lainnya memasuki resesi, ekspor Sumbar pun mulai melambat. Hal itu mulai dirasakan pada bulan November lalu.
Untungnya, menurut Gubernur Gamawan Fauzi, komoditas perkebunan di Sumatera Barat cukup beragam, sehingga dampak negatif krisis global tidak terlalu telak memukul perekonomian Sumbar, "Selain menghasilkan kelapa sawit yang harganya kini anjlok, Sumbar juga menghasilkan komoditas perkebunan lain yang harganya masih relatif stabil, yaitu pinang, cokelat, cengkeh, dan lain-lain," kata Gumawan.
Yang agak mengkhawatrikan, sudah ada perusahaan perkebunan besar yang meminta izin untuk mulai merumahkan ratusan karyawannya. Namun, Gamawan berharap, upaya merumahkan para karyawan menjadi solusi terakhir untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi sektor perkebunan,
Untuk memacu pertumbuhan ekspor Sumbar, pihaknya berusaha memacu tumbuhnya industri perikanan, terutama ikan tuna. "Kami sudah bertemu dengan para investor dan pemilik kapal ikan di Muara Karang, Jakarta. Kami meminta mereka mendirikan industri pengolahan ikan tuna di Sumbar. Semua fasilitas yang mereka butuhkan akan kami sediakan,"ujarnya.
Jangan Ketatkan Semua
Menanggapi tingginya suku bunga perbankan, Rizak Ramli menyatakan, pengetatan likuiditas yang dilakukan pemerintah saat ini tidak efektif. Apalagi kebijakan itu berlaku di seluruh Indonesia. Padahal, uang yang beredar di Sumbar masih kalah dibandingkan dengan uang yang beredar di Bekasi. Mestinya, jika ingin mengetatkan likuiditas, cukup diketatkan di Jabotabek saja, tidak perlu dilakukan di seluruh Indonesia.
"Ekonomi Sumbar yang masih tumbuh cukup bagus, akhirnya akan terkena dampak negatif pengetatan likuiditas itu. Akibatnya, dampak krisis yang tadinya biasa-biasa saja, akan terasa lebih dalam karena penyeragaman kebijakan itu," kata Calon Presiden dari Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Pengusaha dan Pekrja Indonesia (P3I) ini.
Dalam kesempatan itu, Rizal Ramli juga menyerahkan buku "Rizal Ramli: Lokomotif Perubahan" kepada Gubernur Gamawan Fauzi. Rizal Ramli melakukan kunjungan ke Sumatera Barat dalam rangka memperkenalkan diri sebagai salah satu Calon Presiden RI dalam Pilpres 2009 mendatang.
Sebelumnya, Rizal Ramli melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh pers Sumbar di Redaksi Harian Sianggalang. Selain itu, Rizal juga bertemu dengan kader-kader PBR dan P3I Sumbar dan tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau.