Capres Independen, Kenapa Perlu?

Capres Independen, Kenapa Perlu?

INILAH.COM, Jakarta - Dengan perolehan 60% suara, pemerintahan SBY tak menghasilkan kepemimpinan yang efektif dan kuat. Itulah ...

Welcome to Bangkit Indonesia

Selamat datang di Bangkit Indonesia.

Selamat datang di Rumah Perubahan (The House of ...

KBI: JALAN BARU UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK

Komite Bangkit Indonesia (KBI) hadir sebagai respons Dr. Rizal Ramli melihat kondisi bangsa Indonesia yang tidak kunjung maju dan berkembang sebagai Negara besar di Asia. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Di perut buminya tersimpan berbagai bahan tambang yang amat berharga, seperti minyak dan gas bumi, emas, timah, ferro nikel, dll. Indonesia juga memiliki hutan hujan tropis yang amat luas. Lahannya dikenal subur. Sayangnya, mayoritas rakyat Indonesia tetap bergulat dalam kemiskinan.

Rizal Ramli melihat, ada yang salah dalam pengelolaan ekonomi nasional. Sejak masa Orde Baru, lewat kelompok ekonom yang disebut sebagai Mafia Berkeley, yang mengagung-agungkan mekanisme pasar bebas ugal-ugalan, menjadi landasan kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk pemerintah SBY-JK.  Pemerintah boleh bergantin, tapi pola kebijakannya nyaris sama dan sebangun, sehingga dalam kebijakan ekonomi, pemerintah SBY-JK tak lebih dari Orba Bungkus Baru, alias Neo Orba.

Selama kebijakan pasar bebas ugal-ugalan dijalankan, mayoritas rakyat akan tetap berada di pinggiran pembangunan ekonomi. Mereka hanya akan menjadi penonton kemajuan ekonomi yang dicapai oleh segilintir kecil masyarakat, termasuk BUMN dan sejumlah korporasi besar, baik  sasta nasional maupun asing. Nasib mayositas rakyat akan semakin termarginalisasikan oleh kebijakan ekonomi pro pasar ugal-ugalan.

Karena itu, Rizal Ramli pun mendeklarasikan Komite Bangkit Indonesia (KBI), pada 31 Oktober 2007. Tanggal itu dipilih sebagai momentum menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional. Dalam Deklarasi KBI itu, hadir tokoh-tokoh nasional, seperti mantan Wapres Try Soetrisno, mantan Ketua MPR Amien Rais, mantan Ketua DPR yang juga mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tanjung, mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Wiranto, kini Ketua Umum Partai Hanura, Ketua Dewan Pertimbangan PDIP Taufik Kiemas, mantan Ketua PP Muhammdiyah Syafiie Maarif, Yenny Wahid (mewakili mantan Presiden Gus Dur), tokoh-tokoh lintas agama, dan para aktivis pergerakan. Lebih dari 1.000 orang menghadiri acara Deklarasi Komite Bangkit Indonesia yang diselenggarakan di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Lewat KBI, Rizal Ramli ingin menunjukkan bahwa ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kesejahteraan mayoritas rakyat Indonesia. Bukan melalui Jalan Lama, yang sudah ditempuh lebih dari 40, dan terbukti gagal membawa Indonesia menjadi negara besar yang sejahtera, melainkan Jalan Baru.

Jalan Lama yang bertumpu pada neoliberalisme dan fundamentalisme pasar ugal-ugalan, sudah terbukti gagal terbukti gagal meningkatkan kesejahteraan mayoritas rakyat Indonesia. Neoliberalisme dan fundamentalisme juga terbukti gagal dalam lingkup global, seiring kebangkrutan dalam skala gigantik korporasi finansial di Amerika, yang langsung ditransmisikan ke seluruh dunia.

Rizal Ramli menegaskan perlunya perlunya perubahan dan pembaharuan lewat Jalan Baru. Jalan Baru” adalah jalan yang akan berlandaskan pada kebhinekaan, keragaman budaya, dan pluralisme. Dengan landasan itu, Komite Bangkit Indonesia akan mendorong renaissance kebudayaan Indonesia sehingga tercipta suatu masyarakat yang lebih kreatif dan inovatif (innovative and creative society), bukan hanya sekedar masyarakat terbuka (open society) yang sering hanya menjadi korban dari globalisasi. Masyarakat yang lebih kreatif dan inovatif akan mampu menarik manfaat sebesar-besarnya dari kekuatan dan kejayaan masa lalu, serta menarik pengalaman dan manfaat dari kebudayaan antar bangsa.