Capres Independen, Kenapa Perlu?

Capres Independen, Kenapa Perlu?

INILAH.COM, Jakarta - Dengan perolehan 60% suara, pemerintahan SBY tak menghasilkan kepemimpinan yang efektif dan kuat. Itulah ...

Welcome to Bangkit Indonesia

Selamat datang di Bangkit Indonesia.

Selamat datang di Rumah Perubahan (The House of ...

Perpustakaan Nasional, Jakarta, 31 Oktober 2007

Pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah melalui perjuangan yang berat dan panjang sejak tahun 1908, kita pun memperoleh kemerdekaan politik (political independence) – bebas dari imperialisme dan kolonialisme Belanda dan Jepang. Sayangnya, kemerdekaan politik tersebut tidak diikuti dengan kebangkitan dan peningkatan kesejahteraan mayoritas bangsa kita.

Pada bulan Mei 1998, dengan perjuangan dan pengorbanan mahasiswa dan pemuda, kita semua dapat meraih kebebasan (freedom) yang sejak lama diidam-idamkan, ditandai dengan berakhirnya rezim otoriter Orde Baru. Kita mendapatkan berbagai kebebasan, seperti kebebasan berpendapat, kebebasan bersikap dan bertindak.Indonesia bahkan menjadi salah satu negara paling demokratis di dunia. Tetapi sayangnya, tidak berbeda dengan setelah tahun 1945, meski kita telah meraih kebebasan, mayoritas bangsa kita belum pernah bangkit, tidak sejahtera, dan masih sangat miskin.

Ternyata setelah tahun 1998, yang terjadi hanyalah demokrasi “pilih-memilih” (prosedural). Ada pemilihan umum, pemilihan langsung Presiden, Gubernur, dan Bupati. Tetapi belum ada demokrasi yang memberi manfaat dan menghasilkan peningkatan kesejahteraan untuk mayoritas bangsa kita. Demokrasi disederhanakan hanya sekedar soal pilih-memilih dan perebutan kekuasaan antar elite. Padahal, demokrasi seharusnya membawa manfaat konkret bagi kesejahteraan rakyat dan kebangkitan Indonesia. Inilah yang harus menjadi tugas kita, mengubah demokrasi prosedural menjadi demokrasi
substansial, demokrasi yang bermanfaat untuk kemakmuran rakyat!

Pada pertengahan tahun 1960-an, GNP per kapita Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Taiwan, nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per tahun. China bahkan jauh lebih rendah, sekitar US$ 50 per tahun. Tetapi pada tahun 2005, GNP per kapita Indonesia hanya sekitar US$ 1.260. Malaysia 4 kali kita, Korea Selatan 13 kali kita, Thailand 2 kali kita, Taiwan 12 kali kita, dan bahkan China telah menjadi 1,4 kali kita. Selama 40 tahun terakhir, Indonesia paling tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Saat ini negara-negara Asia Timur tersebut terus melaju di jalur pertumbuhan ekonomi tinggi, semakin jauh meninggalkan kita. Kita terpaksa bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam, Filipina, dan Pakistan.

Menjadi pertanyaan penting, mengapa setelah kemerdekaan politik 17 Agustus 1945 dan setelah adanya kebebasan politik setelah Mei 1998, Indonesia tidak pernah bangkit dan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan mayoritas rakyat?