Capres Independen, Kenapa Perlu?

Capres Independen, Kenapa Perlu?

INILAH.COM, Jakarta - Dengan perolehan 60% suara, pemerintahan SBY tak menghasilkan kepemimpinan yang efektif dan kuat. Itulah ...

Welcome to Bangkit Indonesia

Selamat datang di Bangkit Indonesia.

Selamat datang di Rumah Perubahan (The House of ...

Catatan dari demonstrasi 20 Mei 2008
Balada Mak Pinah dan Subhan

 
"BBM naik, SBY harus turun!" Jangan salah, kalimat itu bukanlah yel-yel para mahasiswa dalam berbagai demo mereka menolak rencana kenaikan harga BBM. Tidak. Tapi, kalimat itu meluncur dari mulut mak Pinah. Perempuan berusia 67 tahun tersebut dengan penuh semangat meneriakkan penolakan rencana kenaikan BBM di Bunderan Hotel Indonesia.
 
Ya, mak Pinah adalah satu dari sekitar 15.000 massa demonstran yang pada 20 Mei 2008 silam menyemut di sekitar Bundaran HI dan sekitarnya. Terik matahari yang siang itu membakar Jakarta, sepertinya tidak mampu melumerkan semangat sang nenek. Peluh memang bercucur deras di pelipisnya yang dihiasi uban, sekitar leher, dan bagian tubuh lain. Namun, begitulah. Dia terus dengan lantang meneriakkan suara paraunya bersama sekitar 1.000 massa Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) yang bergabung dalam Front Rakyat Menggugat (FRM) berdemo.
 
"Kalau BBM naik, hidup pasti makin susah," ujarnya.
 
Siang itu ada banyak sekali mak Pinah lain. SRMI memang benar-benar memboyong massanya. Mereka bukan cuma terdiri atas para pemuda dan pemudi. Ada banyak warga yang tergolong manula, laki-laki dan perempuan. Juga anak-anak usia sekolah dasar (SD). Bahkan seorang demosntran menggendong anak lelakinya yang berusia dua tahun.
 
Tuhan memang Maha Adil. Di bawah terik matahari yang membakar, di tengah riuh-rendah teriakan para demonstran, si kecil justru tertidur dalam gendongan sang bapak. Dia tidak merengek, rewel atau menangis. Si kecil justru pulas. Sepertinya, hingar-bingar dan teriknya matahari menjadi pengantar tidur menuju mimpi indah tentang Indonesia sejahtera baginya. Indonesia yang bebas dari pemiskinan dan penindasan pada rakyatnya oleh penguasanya.
 
"Mereka datang dari berbagai wilayah di DKI Jakarta. Tidak ada honor atau bayaran bagi para pendemo itu. Massa ikut demo untuk memperjuangkan nasibnya yang makin hari makin berat. Keji sekali tuduhan yang mengatakan mereka adalah para pendemo bayaran," kata Marlo Sitompul, Ketua Umum SRMI.
 
Sang Lokomotif Perubahan
Massa mulai menyemut sekitar pukul 13.00. Jumlahnya kian membesar dalam beberapa puluh menit ke depan. Mereka datang dari berbagai elemen masyarakat. Antara lain aktivis prodemokrasi (Prodem), FP '98, Relawan Pro Demokrasi (Repdem), Dewan Tani Indonesia, Pemuda Tani, Gaspermindo, SBTN, dan BEM UIN. Selain itu, juga ada massa dari FISBI, BEM Bogor, HMI Ciputat, FAM Banten, Gema Banten, Pemuda Katolik, KAMMI, dan BMDS.
               
Truk ukuran 3/4 yang dijejali loudspeaker disulap menjadi mobil komando.Truk diparkir persis di depan Hotel Indonesia yang belum rampung dibangun ulang. Di atas truk, sejumlah aktivis bergantian menyampaikan orasinya. Ada Lalu Hilman Ketua Umum Liga Nasional Mahasiswa Demokrat (LMND), ada Nasihin Ketua Umum Gabungan Pengemudi Seluruh Indonesia (Gapersi), dan sejumlah aktivis lainnya. Artis yang juga aktivis Rieke Diyah Pitaloka juga tidak ketinggalan memberikan orasi dan memandu acara.
 
Memandu acara? "Teman-teman aktivis kebetulan meminta saya menjadi seksi acara demo siang ini. Jadilah saya di sini sekarang. Menurut saya, rencana kenaikan harga BBM adalah kebijakan konyol yang dipastikan akan makin menyengsarakan rakyat," ujar Rieke dengan ikat kepala merah di kepala bertuliskan "Tolak Kenaikan BBM".
 
Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia Dr. Rizal Ramli juga hadir di tengah-tengah demonstran. Dia bahkan naik ke mobil komando dan memberikan orasi singkatnya. Menurut Rizal Ramli, Presiden SBY dan para pembantunya telah berdusta dengan mengatakan kenaikan harga BBM adalah opsi terakhir untuk menyelamatkan BBM. Langkah itu adalah cermin kegagalan pemerintah dalam menyejahterakan rakyat.
 
Rizal yang juga juga dijuluki Sang Lokomotif Perubahan itu mengatakan, visi pemerintah seperti visi mahasiswa kos-kosan yang kalau kepepet biasa cari utang, menjual jeans, baju, tape recorder, dan laptop. Pemerintah juga begitu. Bisanya cuma menjual BUMN, mengutang, atau menaikkan harga-harga. Pemerintah cuma berani kepada rakyatnya sendiri. SBY tidak berani menegosiasikan utang, mengurangi obligasi rekap, mengefisienkan Pertamina dan PLN, serta tidak berani menyikat habis mafia impor minyak.
 
"Saya tantang SBY debat terbuka. Saya akan buktikan bahwa masih banyak langkah lain untuk menyelamatkan APBN tanpa harus menaikkan harga BBM," teriak Rizal yang siang itu memakai kemeja putih dan celana panjang warna biru gelap dengan mengangkat tangan terkepalnya ke atas.
 
Sekitar pukul 15.30, massa mulai bergerak menuju Istana. Besarnya jumlah demonstran tampaknya cukup merepotkan para koordinator lapangan. Berkali-kali mereka harus merapikan barisan agar massa tidak mencair. Bekali-kali pula demonstran yang berada di bagian depan harus berhenti untuk menunggu massa yang berada di bagian belakang agar barisan tidak terputus.
 
Tepat di depan Plaza Indonesia, Rizal yang sebelumnya berada di atas mobil komando, kemudian turun ikut berjalan bersama para demonstran. Dia berjalan di depan, memimpin barisan. Keruan saja pemandangan 'ganjil' itu menjadi santapan kamera para wartawan. Mereka 'membidik' mantan Menko Perekonomian itu dari depan, samping, dan atas jembatan penyeberangan yang membentang persis di depan Hotel Nikko.
 
Di depan Bank Indonesia, tiba-tiba dari bagian tengah massa dua mahasiswa yang membakar foto/poster Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Purnomo Yusgiantoro. Melihat gelagat tidak baik itu, beberapa mahasiswa lain segera memadamkan api yang baru membakar sebagian dari poster. Kedua mahasiswa itu pun mendapat dampratan dari rekan-rekannya. Maklum, tindakan tersebut bisa memicu terjadinya anarkisme. Para demonstran ingin acara berlangsung dengan tertib dan lancar.
 
Veteran Irian Barat
Yang menarik, pada bagian depan massa demonstran, ada Muhammad Subhan terselip di antara mahasiswa yang berjalan sambil bergandeng tangan erat memenuhi selebar jalan MH Thamrin. Laki-laki ini mengenakan kemeja putih bergaris-garis berlengan panjang yang sudah kumal. Di kepalanya, ada selembar kain berwarna putih bertuliskan "Tolak Kenaikan Harga BBM".
 
Subhan berjalan dengan penuh semangat. Suara paraunya berusaha meningkahi gegap gempita yel-yel para mahasiswa. Tapi, sayangnya, suara lelaki berusia 79 tahun itu akhirnya seperti berbisik ditelan hingar-bingar massa.
 
79 tahun? Ya, benar. Muhammad Subhan adalah mantan tentara. Dia veteran yang mengalami masa-masa sebelum kemerdekaan. Bahkan dia adalah veteran yang ikut membebaskan Papua Barat dari tangan Belanda. Setelah bebas, Presiden Soekarno menggantinya menjadi Irian Jaya.
 
Setiap kali barisan di depan berhenti, Subhan yang sebagian besar giginya telah tanggal, menyempatkan diri 'berorasi'. Seperti juga mak Pinah dan para demonstran lain, kakek berkumis tipis yang seluruhnya telah memutih ini juga menyuarakan penderitaan rakyat yang selama ini dialami.
 
"SBY harus membatalkan rencana kenaikan BBM. BLT tidak akan mampu mengobati penderitaan rakyat yang terjepit mahalnya harga-harga sembako," teriaknya bersemangat sambil menerima sebotol air mineral yang disodorkan seorang mahasiswa. Segera saja dia menyorongkan mulut botol itu ke mulutnya yang kehausan. Wajahnya dikeroyok belasan tustel dan kamera wartawan yang tengah meliput.
 
Arak-arakan massa pun akhirnya sampai di depan Istana. Seperti diduga sebelumnya, mereka dihadang polisi yang membentuk pagar betis. Para polisi itu dilengkapi tameng dan sebagian memegang pentungan. Para komandan, besar sebagian berpangkat Ajun Komisaris Polisi, sibuk mengatur pasukan melalui handy talky. Dua Ajun Komisaris Besar Polisi juga sibuk berkomunikasi lewat telepon genggam merek Nokia E90-nya.Di bagian belakang mereka, digelar kawat berduri yang memisahkan Istana dan Jalan Medan Merdeka Utara dengan para demonstran. Di sana juga berderet ratusan polisi, pun dengan tameng dan pentungan.
 
Seperti di Bundaran HI, para pimpinan aktivis bergantian berorasi. Begitu juga dengan Rizal Ramli. Sekali lagi tokoh yang juga dikenal sebagai Sang Penerobos itu kembali berorasi. Tepuk tangan dan yel-yel mengiringi pidato politiknya. Semangat massa kembali berkobar-kobar.
 
Menjelang maghrib, sebagian massa meninggalkan Istana. Tapi mereka tidak membubarkan diri. Secara bergelombang, mereka menuju Tugu Proklamasi. Di sana mereka beristirahat sejenak, sambil mengumpulkan tenaga untuk kembali berdemo pada keesokan harinya. Perjuangan memang belum berakhir. (edy mulyadi)